Selasa, 01 September 2009

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Rendahnya minat baca siswa SLTP Negeri di Kecamatan Banyuasin III Kabupaten Banyuasin disebabkan, antara lain:

Pertama, orangtua belum tinggi kontribusinya dalam mempengaruhi terbentuknya minat baca pada anak-anak. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah bahwa secara linear minat baca siswa berbanding lurus dengan peran orangtua. Semakin tinggi peran orangtua maka semakin tinggi pula minat baca siswa. Sebaliknya, semakin rendah peran orangtua maka semakin rendah Rata Penuhpula minat baca siswa.

Kedua, perpustakaan sekolah belum mampu secara optimal memainkan perannya sebagai agen informasi di lingkungan sekolah, terutama belum mampu menyediakaan berbagai macam buku dan bahan cetakan lainnya yang dibutuhkan siswa. Hal ini mencerminkan bahwa peran perpustakaan sekolah belum dapat terlaksana sebagaimana seharusnya.


Saran-saran

Setelah beberapa pembahasan di atas, berikut ini diajukan beberapa saran yang berkaitan dengan peran orangtua dan keteraksesan bahan bacaan di perpustakaan sekolah terhadap minat baca siswa SLTP Negeri di Kecamatan Banyuasin III Kabupaten Banyuasin.

Pertama, dengan temuan tentang peran orangtua dan keteraksesan bahan bacaan di perpustakaan sekolah terhadap minat baca siswa SLTP Negeri di Kecamatan Banyuasin III Kabupaten Banyuasin, disarankan agar peran orangtua dan keteraksesan bahan bacaan di perpustakaan sekolah dapat ditingkatkan kualitasnya. Dengan peningkatan kualitas tersebut berarti dapat meningkatkan cakrawala berpikir siswa. Ketertinggalan Indonesia dibandingkan dengan bangsa lain, selama ini, tidak semata-mata di bidang ekonomi, melainkan juga dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Usaha peningkatan kualitas tersebut dapat dilakukan melalui beberapa hal berikut ini:

· Peningkatan peran orangtua

Peningkatan kualitas peran orangtua dalam meningkatkan minat baca siswa sangat diperlukan, sebab salah satu kelemahan kemampuan membaca siswa disebabkan oleh lemahnya dorongan dari orangtua. Untuk itu hal-hal yang perlu dilakukan adalah: 1) orangtua harus menciptakan kondisi keluarga yang mempunyai minat dan kegemaran membaca; 2) orangtua harus menyediakan bahan bacaan yang cukup dan bervariasi; 3) orangtua harus memberikan teladan kepada anak dengan membaca kemudian menceritakan kepada anak.

· Peningkatan keteraksesan bahan bacaan di perpustakaan sekolah

Peningkatan kualitas keteraksesan bahan bacaan di perpustakaan sekolah dalam meningkatkan minat baca siswa sangat diperlukan, sebab salah satu kelemahan kemampuan membaca siswa disebabkan oleh kondisi perpustakaan sekolah yang kurang menunjang. Untuk itu hal-hal yang perlu dilakukan adalah: 1) pengembangan koleksi perpustakaan sekolah. Perpustakaan harus menyediakan buku dan bahan pustaka lainnya yang seusai dengan kebutuhan siswa. 2) peningkatan pengenalan koleksi perpustakaan sekolah. Perpustakaan sekolah harus memberikan bimbingan kepada siswa agar mereka lebih mengenal berbagai macam koleksi yang ada. 3) peningkatan pelayanan perpustakaan sekolah. Perpustakaan sekolah dapat melakukan peningkatan pelayan tersebut dengan memperpanjang jam kerja perpustakaan, mengadakan waktu khusus untuk membaca rombongan (klasikal), dan juga mengadakan bimbingan membaca. 4) Perpustakaan harus dapat menjadi tempat yang nyaman bagi siswa untuk membaca. Kenyamanan tersebut dapat dilihat dari lingkungan yang tenang dan ruang yang luas. 5) Pengelola perpustakaan sekolah harus lebih mudah diakses. Pengelola harus dapat bersikap profesional dan melayani kebutuhan siswa. Ini perlu ditegaskan karena bagi sebagian siswa, pengelola perpustakaan sekolah terlihat tidak ramah dan tidak menguasai bahan-bahan yang ada di perpustakaan sekolah.

Kedua, dipandang perlu untuk melibatkan secara aktif orangtua melalui komite sekolah atau dewan sekolah guna pengembangan perpustakaan sekolah. Orangtua jangan semata-mata menjadi sumber finansial bagi sekolah saja, tapi lebih dari itu, orangtua harus dipandang sebagai rekan sejajar yang sama-sama berkepentingan dalam meningkatkan minat baca siswa.

Ketiga, menumbuhkembangkan apresiasi masyarakat terhadap kegiatan membaca. Bagi sebagian besar masyarakat, termasuk peserta didik, membaca belum merupakan kebiasaan bahkan masih ada yang menganggap bahwa tanpa membaca sekali pun seseorang dapat mencapai sesuatu yang dinginkannya. Kurangnya motivasi ini berkaitan dengan masih kurangnya apresiasi keluarga, lembaga pendidikan dan masyarakat terhadap orang yang membaca, sehingga bagi mereka yang membaca maupun tidak membaca tidak menimbulkan perbedaan yang berarti dalam masyarakat. Masyarakat harus memahami bahwa keberhasilan dalam pendidikan berkorelasi dengan kegemaran membaca karena diperkirakan 50-60 persen pengetahuan harus dimantapkan anak melalui bacaan. Persentase tersebut semakin meningkat sejalan dengan semakin tingginya tingkat pendidikan yang dijalani seseorang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar