Selasa, 01 September 2009

Hasil Penelitian


Berdasarkan penelitian yang di lakukan penulis pada tahun 2004 terhadap hubungan antara peran orangtua, keteraksesan perpustakaan sekolah terhadap minat baca siswa SMP di Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan, ditemukan hal-hal sebagai berikut.

Peran Orangtua

Di depan telah dikemukakan bahwa hasil skor rata-rata perhitungan variabel peran orangtua sebesar 40,95, sedangkan yang berhasil mencapai skor di atas rata-rata hanya 93 siswa atau 39,8%. Di sisi lain teridentifikasi bahwa persentase kontribusi faktor orangtua sebagai tokoh anutan bagi anak lebih tinggi daripada kontribusi faktor orangtua yang membangun suasana yang menyenangkan dalam memperkenalkan buku kepada anak. Secara keseluruhan hasil tersebut dapat menjadi cerminan bahwa peran orangtua dalam menumbuhkan minat baca di kalangan siswa di SLTP Negeri di Kecamatan Banyuasin III Kabupaten Banyuasin tergolong rendah.

Penjelasan yang dapat dikemukakan dari rendahnya kontribusi peran orangtua dalam menumbuhkan minat baca siswa ini disebabkan hal-hal sebagai berikut.


Pertama, menurut responden, orangtua mereka belum mampu berbuat secara konsisten untuk memberikan motivasi agar mereka memiliki minat baca. Dari penelitian ini ada hal yang menarik untuk dicermati bahwa walaupun para orangtua responden membaca di depan anak, memberi tahu tentang isi bacaan yang sedang dibaca, mengajak berdiskusi tentang isi bacaan yang sedang dibaca, serta mendongeng ketika mereka masih kanak-kanak, ternyata para responden melaporkan bahwa orangtua mereka sebagian besar hanya kadang-kadang memberi tahu tentang pentingnya membaca.


Agar minat baca siswa tumbuh, orangtua dan guru perlu terus menerus mengembangkan motivasi belajar. Oleh karena itu, lingkungan rumah dan sekolah perlu dirancang sedemikian rupa agar anak terangsang rasa ingin tahunya dan terdorong untuk belajar. Orangtua dan guru harus pandai dan kreatif mengaitkan bahan pelajaran dengan kenyataan sehari-hari agar terasa relevansinya dan manfaatnya.


Menurut Martini (1995:6) memberikan contoh pada anak merupakan metode yang efektif untuk meningkatkan minat baca. Dari penelitian-penelitian yang pernah dilakukan ditemukan bahwa anak yang tidak suka membaca biasanya berasal dari keluarga yang tidak gemar membaca. Bagi anak, orangtua merupakan tokoh identifikasi. Oleh sebab itu tidaklah mengherankan jika mereka meniru hal-hal yang dilakukan orangtuanya.


Memberi tahu isi bacaan yang sedang dibaca orangtua merupakan salah satu cara untuk menumbuhkan minat anak untuk membaca. Orangtua dapat berbagi informasi tentang bacaan yang sedang dibaca serta memberikan motivasi tentang pentingnya membaca. Dengan demikian orangtua telah bertindak sebagai motivator. Anak jangan sampai merasa bahwa kegiatan membaca merupakan suatu kegiatan yang melelahkan baik secara fisik maupun mental. Anak yang mengalami kelelahan fisik dan mental akan berusaha untuk menjauhi kegiatan membaca, yang pada gilirannya minat membaca mereka akan layu sebelum berkembang. Mendiskusikan serta meminta pendapat anak tentang suatu topik bacaan merupakan cara lainnya untuk menumbuhkan minat baca anak.


Kedua, kurang tersedianya buku-buku bacaan (bukan buku paket) di rumah. Kunci penting yang harus dicatat bagi tumbuhnya minat baca adalah ketersediaan buku-buku di rumah. Percuma saja orangtua selalu menekankan tentang pentingnya membaca jika ternyata di rumah anak kesulitan untuk mendapatkan sumber bacaan. Orangtua harus menyadari tentang pentingnya ketersediaan bahan bacaan di rumah.

Kurangnya perhatian orangtua terhadap ketersediaan bahan bacaan di rumah tercermin dari jawaban responden yang melaporkan bahwa orangtua mereka hanya kadang-kadang saja membelikan buku bacaan. Para responden juga mengaku bahwa mereka hanya memiliki buku bacaan antara satu hingga lima buah. Demikian juga dengan bahan cetakan lainnya. Jawaban responden sebagaimana telah diungkapkan di atas dapat dikonfirmasikan lebih lanjut dengan jawaban mereka ketika ditanyakan apakah orangtua mereka mengajak mereka ke toko buku. Sebagian besar, mengungkapkan bahwa orangtua mereka kadang-kadang saja membawa mereka ke toko buku.


Orangtua responden tampaknya belum menyadari sepenuhnya bahwa orangtua perlu menjadi tokoh anutan atau model yang juga senang membaca dan memancarkan kegemaran membaca tersebut pada anak, bukan cuma menyuruh anak membaca. Anak belum sepenuhnya mendapat bimbingan membaca dari orangtua. Bagi anak, buku-buku saja tidak cukup sebab mereka juga perlu bimbingan baik secara eksplisit maupun secara implisit dari orangtua. Anak harus mendapat pembelajaran dari orangtua mereka. Hasil akhir yang diharapkan dari minat dan kegemaran membaca siswa adalah keberhasilan dalam pendidikan. Menurut Anggraika (2003) keberhasilan dalam pendidikan berkorelasi tinggi dengan kegemaran membaca. Tidak mengherankan karena diperkirakan 50-60 persen pengetahuan harus dimantapkan anak melalui bacaan. Persentase tersebut semakin meningkat sejalan dengan semakin tingginya tingkat pendidikan yang dijalani seseorang.


Ketiga, orangtua sering menolak membelikan buku bacaan. Penyebab utama rendahnya kontribusi orangtua dalam menumbuhkan minat baca siswa adalah karena orangtua sering menolak ketika mereka meminta dibelikan buku bacaan. Temuan ini cukup mengejutkan jika dibandingkan dengan beberapa jawaban di depan. Ada beberapa asumsi mengapa hal tersebut terjadi, antara lain: 1) kemungkinan belum tumbuh kesadaran yang sebenarnya dalam diri orangtua para responden tentang arti penting membaca, 2) kemungkinan contoh yang selalu diberikan orangtua baru sebatas “bibir” saja, dan 3) faktor ekonomi yang belum memadai.

Keteraksesan Bahan Bacaan di Perpustakaan Sekolah

Telah dikemukakan juga bahwa rata-rata perhitungan variabel keteraksesan bahan bacaan di perpustakaan sekolah sebesar 39,76, sedangkan yang berhasil mencapai skor di atas rata-rata hanya 88 siswa atau 37,6%. Di sisi lain teridentifikasi bahwa persentase kontribusi faktor ketersediaan buku-buku dan berbagai bahan cetak lainnya yang diperlukan siswa lebih tinggi daripada kontribusi faktor ketersediaan tempat yang tenang dan menyenangkan untuk membaca, faktor ketersediaan waktu bagi siswa untuk membaca buku-buku atau bahan cetak yang diperlukan, dan faktor para pustakawan di perpustakaan sekolah dapat dengan mudah diakses guna memberikan keterangan yang diperlukan oleh siswa. Di sini secara transparan kita dapat melihat bahwa yang paling utama dalam menumbuhkembangkan minat baca siswa adalah ketersediaan buku-buku dan berbagai bahan cetak lainnya. Secara keseluruhan hasil tersebut dapat menjadi cerminan bahwa keteraksesan bahan bacaan di perpustakaan sekolah untuk menumbuhkan minat baca di kalangan siswa di SLTP negeri di Kecamatan Banyuasin III Kabupaten Banyuasin tergolong rendah.

Rendahnya kontribusi keteraksesan bahan bacaan di perpustakaan sekolah dalam menumbuhkan minat baca siswa ini disebabkan hal-hal sebagai berikut.

Pertama, perpustakaan sekolah belum mampu menyediakan koleksi buku dan bahan cetak lainnya dalam jumlah dan judul yang memadai. Sebagian besar responden menganggap bahwa koleksi buku dan bahan cetakan lainnya di perpustakaan sekolah mereka belum memadai. Ini mungkin yang menjadi penyebab mengapa mereka hanya kadang-kadang saja mengunjungi perpustakaan sekolah mereka. Padahal sebagaimana yang diungkapkan Diem (2000a: 2) akses terhadap bahan bacaan berarti perpustakaan sekolah harus memiliki bahan bacaan yang jumlahnya memadai untuk setiap anak, sehingga tercipta keseimbangan yang adil antara anak-anak yang mendapat akses terhadap buku di luar sekolah dan mereka yang tidak. Perpustakaan sekolah harus menyediakan sedikitnya 20 (dua puluh) buku per anak agar masing-masing anak dapat meminjam beberapa buku untuk dibawa pulang pada setiap kunjungan. Untuk itu, disarankan kepada sekolah agar dapat menambahkan sebuah buku per siswa ke dalam koleksi perpustakaan setiap tahunnya agar judul-judul baru yang penting dapat tersedia dan buku-buku yang sudah kedaluarsa dapat tereliminasi. Buku-buku dan bahan-bahan kepustakaan lainnya harus setiap tahun diperbaharui. Bahan bacaan yang usang dan kedaluarsa harus diganti dengan yang mutakhir dan dengan karya-karya baru yang bermutu dan dapat memperkaya cakrawala ilmu pengetahuan.

Sementara Masduki (1997: 40) menilai bahwa tingkat rasio siswa dan ketersediaan buku bergantung pada setiap jenjang pendidikan. Idealnya, rasio seorang siswa SD berbanding 20 judul, sedang SMP 1:25, dan SMU 1:30 judul. Jumlah eksemplarnya minimal dua eksemplar, atau lebih untuk setiap judulnya. Penyediaan yang cukup akan membuka seluas-luasnya kesempatan minat baca siswa/anak. Lebih-lebih lagi kalau jenis bukunya bervariasi sehingga merangsang siswa mengadakan penelitian walau secara sederhana.

Kedua, jam buka perpustakaan sekolah yang terbatas dan tempat membaca yang tidak nyaman. Jam buka yang terbatas menyebabkan sebagian besar responden hanya membaca di perpustakaan jika ada jam pelajaran yang kosong saja. Sementara setiap kali kunjungan, mereka hanya membaca lebih kurang 15 menit. Diduga rendahnya frekuensi membaca di perpustakaan ini selain karena waktu yang terbatas, juga karena tempat membaca yang belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan sebagai tempat untuk menggairahkan semangat belajar. Para responden sebagian besar sepakat bahwa pihak sekolah perlu menyediakan waktu khusus bagi siswa untuk membaca di perpustakaan sekolah. Temuan ini relevan dengan isyu kebijakan Departemen Pendidikan Nasional (2003:2) yang berkaitan dengan pengembangan perpustakaan sebagai sumber belajar, yaitu:

· masih terdapat sekolah-sekolah yang belum memiliki perpustakaan;

perpustakaan yang ada, belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan sebagai tempat/sarana untuk menggairahkan semangat belajar, secara mandiri, yang disebabkan oleh berbagai kendala, antara lain: 1) lokasinya kurang nyaman; 2) jam buka yang sangat terbatas; 3) fasilitas kurang memadai, dan 4) dana yang terbatas

· pengelolaan perpustakaan kurang profesional, yang disebabkanboleh ketiadaan tenaga perpustakaan (pustakawan) yang profesional;

· guru kurang berpartisipasi dalam pemanfaatan perpustakaan, baik bagi dirinya maupun bagi siswa;

· belum adanya koordinasi antara perpustakaan sekolah dengan perpustakaan lain.


Temuan lain yang cukup mengejutkan adalah bahwa walaupun jam buka perpustakaan terbatas, ternyata sebagian besar responden menjawab bahwa waktu yang tersedia sudah cukup memadai. Ini dapat dijadikan petunjuk awal bahwa minat siswa untuk mengunjungi perpustakaan sekolah tergolong rendah, sehingga walaupun jam bukanya terbatas, mereka menganggap waktu yang tersedia untuk membaca di perpustakaan sudah cukup.


Ketiga, kemampuan pustakawan yang masih rendah. Sebagian besar responden menganggap bahwa pustakawan di sekolah mereka belum melayani mereka secara baik. Pustakawan sekolah juga dianggap kurang menguasai informasi tentang bahan bacaan yang mereka tanyakan.

Fakta yang didapat dari wawancara mengungkapkan bahwa tenaga perpustakaan yang ada memang bukanlah tenaga profesional perpustakaan. Mereka adalah guru-guru dan tenaga administrasi yang diberi tugas tambahan sebagai pengelola perpustakaan. Hal ini menyebabkan tugas-tugas kepustakaan belum dapat dilaksanakan secara baik. Padahal tenaga pustakawan seharusnya mempunyai tugas membantu pemakai dengan berbagai jasa, seperti jasa informasi, jasa penelusuran, pendidikan pemakai, dan membantu penelitian (Sulistyo-Basuki, 2000:2).

Minat Baca Siswa

Hasil skor rata-rata perhitungan variabel minat baca siswa SLTP negeri di Kecamatan Banyuasin III Kabupaten Banyuasin sebesar 37,58, sedangkan yang berhasil mencapai skor di atas rata-rata hanya 81 siswa atau 34,6%. Di sisi lain teridentifikasi bahwa persentase kontribusi faktor eksternal lebih tinggi daripada kontribusi faktor internal. Secara keseluruhan hasil tersebut dapat menjadi cerminan bahwa minat baca di kalangan siswa di SLTP Negeri di Kecamatan Banyuasin III Kabupaten Banyuasin tergolong rendah.

Wahadaniah (1997:16) menjelaskan bahwa minat baca adalah keinginan yang kuat disertai usaha-usaha seseorang untuk membaca. Apa yang diungkapkan oleh Wahadaniah tersebut menggambarkan bahwa minat pertama-tama muncul dari dalam diri individu yang bersangkutan.

Orang yang mempunyai minat baca yang baik umumnya akan berusaha melahap aneka bacaan atau bacaannya akan sangat variatif. Mereka bukan hanya akan membaca jenis-jenis bacaan yang ada hubungan langsung dengan pekerjaan atau profesi dirinya saja, tetapi juga akan membaca jenis-jenis bacaan lain (Harras & Sulistianingsih, 1997: 1.28).

Rendahnya minat baca siswa SLTP Negeri di Kecamatan Banyuasin III Kabupaten Banyuasin disebabkan hal-hal sebagai berikut.

Pertama, motivasi membaca yang belum mendukung. Jika melihat dari sisi motivasi, kondisi motivasi membaca responden memang masih dalam taraf yang belum menggembirakan. Sebagian besar responden mengaku bahwa motivasi mereka membaca hanya sekedar untuk mencari hiburan saja. Dalam taraf awal pembinaan minat dan kegemaran membaca apa yang telah dikemukakan responden tersebut memang dapat dipahami. Akan tetapi jika dikaitkan dengan status mereka sebagai pelajar mestinya motivasi utama mereka membaca adalah dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi.

Kedua, frekuensi membaca yang rendah. Sebagian besar responden melaporkan bahwa waktu yang mereka gunakan untuk membaca setiap hari hari lebih kurang 30 menit. Diduga salah satu faktor penyebab frekuensi membaca yang rendah ini disebabkan oleh kemampuan bahasa Indonesia yang kurang. Untuk itu diperlukan penelitian lanjutan guna mengungkapkan hubungan antara kemampuan bahasa Indonesia dan frekuensi membaca siswa.

Frekuensi membaca dapat dijadikan parameter untuk mengetahui apakah seseorang telah memiliki minat baca yang tinggi atau rendah. Menurut Harkas dan Sulistianingsih (1997: 1.27-1.29) indikator yang dapat dijadikan sebagai parameter untuk mengetahui apakah seseorang telah memiliki minat baca yang tinggi atau masih rendah adalah sebagai berikut:

Frekuensi dan kuantitas membaca

Maksudnya bagaimana frekuensi (keseringan) dan waktu yang digunakan oleh seseorang untuk membaca. Orang yang telah memiliki minat baca yang tinggi umumnya frekuensi membacanya pun sangat tinggi dan waktu yang dipergunakannya pun akan sangat tinggi pula. Dengan perkataan lain, seseorang yang mempunyai minat membaca akan banyak melakukan kegiatan membaca, begitu pula sebaliknya.

Berapa lamakah sebaiknya seorang pembaca melakukan aktivitas membaca dalam setiap harinya? Jawabannya akan sangat bergantung pada tuntutan kebutuhan orang tersebut (profesi yang mereka sandang) serta kecepatan membaca yang dimilikinya. Sebagai gambaran kaum ibu di Amerika pada setiap minggunya sedikitnya melahap 400.000 kata, yang berasal dari sumber-sumber bacaan seperti surat kabar, majalah wanita dan berbagai novel baru. Kalau kecepatan efektif membaca mereka hanya sekitar 250 kata per menit maka setiap harinya rata-rata waktu yang harus mereka luangkan untuk membaca berkisar 2-3 jam pada setiap harinya.

Kuantitas sumber bacaan


Orang yang mempunyai minat baca yang baik umumnya akan berusaha melahap aneka bacaan atau bacaannya akan sangat variatif. Mereka bukan hanya akan membaca jenis-jenis bacaan yang ada hubungan langsung dengan pekerjaan atau profesi dirinya saja, tetapi juga akan membaca jenis-jenis bacaan lain.

Ketiga, motivasi dari orangtua yang masih rendah. Para responden sebagian besar mengaku bahwa yang paling mendorong mereka agar membaca adalah guru mereka. Jawaban ini relevan dengan temuan tentang peran orangtua yang mengungkapkan bahwa orangtua belum mampu berbuat secara konsisten untuk memotivasi anaknya agar memiliki minat baca.


Temuan di atas berarti menguatkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Thorndike. Berdasarkan hasil penelitian tahun 1986 yang dilakukannya di lima belas negara, termasuk di dalamnya negara-negara berkembang, ditemukan bahwa di antara berbagai faktor eksternal (Thorndike menyebutnya faktor sosiologis) yang ada maka faktor pengaruh keluargalah yang sangat tinggi kontribusinya dalam mempengaruhi terbentuknya minat serta kemahiran membaca pada anak-anak. Bahkan Thorndike menyatakan bahwa tidak terdapat indikasi bahwa anak-anak yang memiliki minat serta kemahiran membaca unggul sebagai akibat langsung (pengaruh) dari pengajaran membaca yang diselenggarakan di sekolah-sekolah. Sebaliknya berkat pengaruh serta dukungan keluargalah minat serta keterampilan membaca mereka terbentuk (Harkas & Sulistianingsih, 1997: 1.29).


Pendapat senada dengan Thorndike juga direkomendasikan dalam laporan penelitian IAEA
(International Achievement Education Association) tahun 1988. Menurut badan dunia tersebut, analisis lebih jauh di negara-negara yang anak-anaknya memiliki minat serta keterampilan membaca unggul, seperti Finlandia, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa, pada umumnya mereka memiliki akses kemudahan dalam mendapatkan berbagai bahan bacaan yang berkualitas, baik di perpustakaan sekolah, dan terutama di rumah-rumah. Sehubungan dengan kenyataan tersebut IAEA merekomendasikan bahwa faktor dukungan keluarga merupakan salah satu kunci dalam pembentukan minat serta keterampilan membaca pada anak-anak. Wujud dukungan keluarga tersebut antara lain penciptaan tradisi membaca di dalam lingkungan keluarga serta penyediaan bahan-bahan bacaan sesuai dengan anak-anak.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar