Selasa, 01 September 2009

Hakikat Membaca

Membaca menduduki posisi serta peran yang sangat penting dalam konteks kehidupan umat manusia, terlebih pada era informasi dan komunikasi seperti sekarang ini. Membaca juga merupakan sebuah jembatan bagi siapa saja dan di mana saja yang berkeinginan meraih kemajuan dan kesuksesan, baik di lingkungan dunia persekolahan maupun di dunia pekerjaan. Oleh karena itu, para pakar sepakat bahwa kemahiran membaca (reading literacy) merupakan conditio sine quanon (prasyarat mutlat) bagi setiap insan yang ingin beroleh kemajuan (Harras & Sulistianingsih, 1997:1.1)

Apa yang dimaksud dengan membaca? Jawaban atas pertanyaan tersebut akan sangat luas dan beragam, bergantung dari sudut mana kita hendak meninjaunya. Para pakar hingga saat ini umumnya masih memberikan batasan yang berbeda-beda. Seperti yang diakui William (Harras & Sulistianingsih, 1997:1.6), hingga saat ini menurutnya para pakar masih bersilang pendapat dalam memberikan definisi membaca yang benar-benar akurat. Meskipun demikian, menurutnya ada satu yang disepakati oleh seluruh pakar ihwal membaca, yakni bahwa unsur yang harus ada dalam setiap kegiatan membaca yakni pemahaman (understanding), sebab kegiatan membaca yang tidak disertai dengan pemahaman bukanlah kegiatan membaca.

Menurut Sudarso (1993:4) membaca adalah aktivitas yang kompleks dengan mengerahkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah. Kita harus menggunakan pengertian dan khayalan, mengamati dan mengingat-ingat. Kita tidak dapat membaca tanpa menggerakkan mata atau tanpa menggunakan pikiran kita. Pemahaman dan kecepatan membaca menjadi amat tergantung pada kecakapan dalam menjalankan setiap organ tubuh yang diperlukan untuk itu. Pendapat Soedarso tersebut senada dengan pendapat Tampubolon (1993:41) yang mengatakan bahwa membaca adalah suatu kegiatan fisik dan mental.

Dari segi linguistik, Anderson (dikutip dalam Tarigan, 1986:8-9) menjelaskan bahwa membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi, berlainan dengan berbicara dan menulis yang justru melibatkan penyandian (encoding). Sebuah aspek pembacaan sandi (decoding) adalah menghubungkan kata-kata tulis dengan makna bahasa lisan yang mencakup pengubahan tulisan/cetakan menjadi bunyi yang bermakna. Sementara Finochiaro dan Bonomo (Tarigan, 1986: 8-9) berpendapat bahwa membaca adalah memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung dalam bahan tertulis.

Membaca merupakan proses yang menuntut pembaca melakukan pertukaran ide dengan penulis melalui teks. Atas dasar pijakan tersebut Harjasujana (1987) dikutip oleh Harras dan Sulistianingsih (1997:1.7) mengatakan bahwa membaca dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan komunikasi interaktif yang memberikan kesempatan kepada pembaca dan penulis untuk membawa latar belakang dan hasrat masing-masing. Sekali lagi pengertian atau definisi membaca itu banyak sekali ragamnya. Oleh karena itu yang penting bagi kita bukan menghafalkan aneka definisi-definisi tersebut. Yang lebih penting bagi kita ialah memahami alasan-alasan yang melatarbelakangi dari definisi-definisi tersebut.

Peran Orangtua

Di depan telah disebutkan bahwa keluarga merupakan lingkungan yang pertama dikenal anak. Sebagian besar waktunya dihabiskan bersama keluarga. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika anggota keluarga merupakan orang yang paling berarti bagi kehidupan anak. Dengan demikian, maka jelas keluarga mempunyai peranan yang besar dalam pembentukan minat baca.

Menurut Martini (1995:5) kegiatan membaca merupakan suatu bentuk komunikasi yang dapat menciptakan hubungan yang akrab antaranggota keluarga. Membacakan cerita atau mendengarkan cerita anak merupakan bentuk perhatian yang diberikan orangtua pada anaknya. Perhatian dan kasih sayang orangtua membuat anak merasa aman. Selain itu kegiatan tersebut merangsang anak mengutarakan pikirannya pada orangtua. Anak mengetahui bahwa orangtua pun mau mendengarkannya. Anak dapat mempercayai orangtua sehingga jika ia menghadapi suatu masalah mereka tidak segan-segan datang kepada orangtuanya. Hal ini baik untuk perkembangan emosi dan kepribadian anak.

Lebih lanjut Martini (1995:6) mengungkapkan bahwa memberikan contoh pada anak juga merupa metode yang efektif untuk meningkatkan minat baca. Dari penelitian-penelitian yang pernah dilakukan ditemukan bahwa anak-anak yang tidak suka membaca biasanya berasal dari keluarga yang tidak gemar membaca. Sebaliknya, jika orangtuanya pencinta buku biasanya anak pun gemar membaca. Hal ini sesuai dengan teori modeling yang dikemukakan oleh A. Bandura dan Welters, psikolog dari Amerika. Anak senang meniru tingkah laku orangtuanya. Pada masa kecil terutama sebelum anak mulai bersekolah, orangtua merupakan tokoh yang paling dikagumi anak. Mereka ingin seperti orangtuanya. Anak perempuan ingin seperti ibunya dan anak laki-laki ingin seperti ayahnya. Orangtua merupakan tokoh identifikasi bagi anak. Maka tidaklah mengherankan jika anak meniru hal-hal yang dilakukan orangtuanya. Memang pada mulanya mereka hanya mencontoh orangtua, tetapi lama kelamaan mereka mendapatkan kesenangan dari membaca. Akhirnya bacaan merupakan bagian dari kehidupan anak.

Memberikan hadiah bacaan, menurut Martini (1995:6), juga merupakan hal yang dianjurkan. Jika suatu kejadian penting terjadi, seperti anak berulang tahun atau naik kelas, orangtua dapat membelikan anak buku atau bahkan membawanya ke toko buku untuk memilih buku yang disukainya. Dengan memberikan buku sebagai hadiah dapat membantu mengajarkan bahwa buku merupakan sesuatu yang berharga. Jika orangtua cukup mampu, kebiasaan membeli buku atau majalah merupakan kebiasaan yang perlu dilestarikan.

Mengajak anak berkunjung ke perpustakaan secara teratur juga sangat dianjurkan, apalagi jika perpustakaan mudah dijangkau. Pergi ke perpustakaan dapat merupakan aktivitas yang menyenangkan untuk keluarga. Selain tidak membutuhkan banyak biaya, berbagai jenis bacaan tersedia di sana.

Untuk mengenalkan buku pada anak, Hernowo (dikutip Mustakim, 2003) berpendapat bahwa ada tiga petunjuk paling awal yang dijadikan sebagai bahan rujukan untuk menjadikan anak keranjingan membaca. Pertama, memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak agar mereka benar-benar dapat melihat orangtuanya sedang membaca buku. Kedua, orangtua harus membagikan informasi-informasi yang bermanfaat yang diperoleh dari kegiatan membaca. Ketiga, pada saat membaca buku di rumah sesekali orangtua harus membacanya dengan suara keras supaya anak dapat mendengar suara bacaan yang sedang dibaca.

Di samping keteladanan di atas, orangtua juga harus membangun suasana yang menyenangkan dalam memperkenalkan buku kepada anak. Ini dapat dilakukan dengan mengajak anak jalan-jalan mengunjungi tempat-tempat yang berkaitan dengan buku. Misalnya, dua minggu sekali anak diajak untuk merasakan dan melihat jajaran buku yang ada di toko buku atau perpustakaan. Bisa juga dengan membiasakan anak untuk memilih buku bacaan secara bebas sesuai dengan keinginannya

Perpustakaan Sekolah

Perpustakaan adalah lembaga yang mengelola, menghimpun, mengatur media baik cetak maupun noncetak yang merupakan sumber informasi, media pendidikan, media rekreasi dan media riset bagi masyarakat. Seperti yang pernah dikatakan seorang pustakawan, sebenarnya perpustakaan merupakan tempat menyimpan, menghimpun koleksi buku, bahan cetakan, serta rekaman lainnya untuk kepentingan masyarakat umum. Perpustakaan berdiri sebagai lembaga yang demokratis yang diurus oleh dan untuk masyarakat. Setiap anggota masyarakat punya hak dan kesempatan untuk mencari tambahan ilmu pengetahuan. Kalau boleh disimpulkan, fungsi perpustakaan sedikitnya ada lima. Pertama, merupakan sumber segala informasi. Kedua, merupakan fasilitas pendidikan nonformal, khususnya bagi anggota masyarakat yang tidak sempat mendapat kesempatan untuk mengalami pendidikan formal. Ketiga, merupakan sarana atau tempat pengembangan seni budaya bangsa, melalui buku atau majalah. Keempat, karena keragaman bahan bacaan yang disimpannya, perpustakaan sekaligus memberikan hiburan bagi pembacanya. Kelima, merupakan penunjang yang penting artinya bagi suatu riset sebagai bahan acuan atau referensi (Drajat, 2002).

Bagi dunia pendidikan, keberadaan perpustakaan tidak bisa terlepas dari dunia pendidikan. Keduanya punya misi yang sama yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa sehingga banyak ahli menyatakan bahwa perpustakaan adalah denyut jantung bagi sekolah. Alasannya, perpustakaan merupakan 1) sumber ilmu pengetahuan yang harus digali, 2) pusat kegiatan belajar bagi siswa (studying center), 3) pusat informasi (information center) bagi masyarakat sekolah, dan 4) tempat rekreasi (recreation place) dalam arti refreshing, tempat penyegaran otak, jiwa (rohani), bahkan jasmani bagi masyarakat sekolah (Hermawam, 2003).

Perpustakaan seharusnya dapat dijadikan tempat atau sarana untuk membantu menggairahkan semangat belajar, menumbuhkan minat baca, dan mendorong membiasakan siswa belajar secara mandiri, karena perpustakaan berfungsi sebagai sarana edukatif, informatif, riset, dan rekreatif. Namun kenyataannya belum semua sekolah memiliki perpustakaan. Sementara sekolah yang telah mempunyai perpustakaan belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan tersebut, yang disebabkan oleh berbagai kendala, antara lain 1) lokasi perpustakaan yang kurang nyaman (kondusif), jam buka yang sangat terbatas (hanya pada saat jam istirahat sekolah), koleksi buku terbatas, fasilitas kurang memadai, dana terbatas; 2) pengelolalaan yang kurang profesional; 3) guru kurang berpartisipasi dalam pemanfaatan perpustakaan bagi siswa, dan 4) kurangnya koordinasi antarperpustakaan (Departemen Pendidikan Nasional, 2003).

Menurut Hermawam (2003) dunia pendidikan menuntut agar perpustakaan sekolah menjadi pusat segala informasi yang berhubungan dengan kegiatan pendidikan di sekolah, sebagai pusat integrasi segala kegiatan di mana siswa, guru, dan pustakawan dapat bekerjasama dalam memperluas dan mempertinggi mutu pendidikan, baik individu maupun kelompok. Akibatnya, setiap sekolah perlu memiliki perpustakaan yang memadai sesuai dengan tingkatannya karena tidak mungkin manfaat dari perpustakaan dapat diperoleh jika sekolah tidak memiliki perpustakaan sekolah atau kalau pun ada kurang memadai.

Walau semua orang sepakat bahwa keberadaan perpustakaan penting bagi dunia pendidikan, kenyataannya keberadaan perpustakaan yang memadai masih menjadi impian bagi kebanyakan sekolah di negeri ini. Hanya sedikit sekolah yang punya perpustakaan yang memadai, itu pun kebanyakan sekolah negeri yang favorit dan sekolah unggulan serta sekolah swasta yang mampu yang sebagian besar berada di daerah perkotaan.

Selain itu, masih banyak kalangan pendidik yang belum memahami pentingnya keberadaan perpustakaan bagi sekolah. Mereka masih beranggapan perpustakaan hanyalah gudang buku bukan gudang ilmu. Jadi, tidak heran jika ada di antara guru atau tenaga administrasi sekolah yang enggan ditugaskan sebagai pustakawan karena menganggap tugas tersebut hanyalah buangan atau pengucilan.

Anggapan tersebut, menurut Hermawam, berakibat pada rendahnya rasa kepedulian guru dan petugas administrasi sekolah terhadap keberadaan koleksi perpustakaan yang menyebabkan koleksi perpustakaan yang dimiliki sekolah menjadi banyak yang hilang atau hancur karena tidak terawat.

Keberadaan perpustakaan sekolah yang memprihatinkan akan berakibat pada rendahnya pertumbuhan minat baca siswa dan guru yang pada akhirnya akan menghambat tumbuh dan berkembangnya pola pikir kritis pada siswa sebagai modal bagi terciptanya kondisi berpikir ilmiah di lingkungan sekolah. Hal ini terjadi karena guru tidak punya sarana untuk merangsang tumbuhnya minat baca siswa yang seharusnya terus dipupuk agar kemampuan membacanya terus meningkat dan berkembang menjadi budaya membaca (Hermawam, 2003).

Perpustakaan sekolah merupakan bagian yang integral dari sekolah. Oleh karena itu, bersama-sama dengan komponen-komponen lain perpustakaan sekolah berusaha sehingga tujuan sekolah atau tujuan pendidikan di sekolah tercapai. Dengan perkataan lain, tujuan perpustakaan sekolah identik dengan tujuan pendidikan di sekolah (BPK Penabur, 2003).

Secara umum tujuan perpustakaan sekolah adalah mendukung dan memperkaya program pendidikan atau kurikulum sekolah di mana perpustakaan itu berada. Sementara secara khusus dapat disebutkan tujuan perpustakaan sekolah adalah:

· perpustakaan sekolah harus ikut secara aktif di dalam usaha sekolah untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa dan guru serta yang berkaitan;

· meningkatkan minat baca dan belajar seumur hidup;

· meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan pengembangan rasa keindahan dan apresiasi yang wajar terhadap hasil kebudayaan bangsa melalui penyediaan koleksi;

· melayani dengan baik dan bermanfaat bagi perkembangan setiap siswa sebagai individu;

· membantu siswa mengembangkan sikap-sikap sosial dalam pengalaman mereka menggunakan perpustakaan secara tertib;

· membantu siswa untuk memiliki kemahiran dan keterampilan dalam memilih dan mempergunakan bahan pustaka, sehingga mereka dapat mengambil keputusan yang tepat dan baik di dalam kehidupannya;

· membina kerja sama yang baik dengan seluruh aparat sekolah (BPK Penabur, 2003).

Menurut Wahadaniah (1997:18-19) perpustakaan sekolah memiliki beberapa peran yang diharapkan dapat mengembangkan minat dan kegemaran membaca siswa. Peran tersebut antara lain:

· membantu siswa melaksanakan penyelidikan dan mencari keterangan-keterangan yang lebih luas daripada pelajaran yang didapatnya di dalam kelas;

· meningkatkan minat baca siswa, karena adanya kebutuhan siswa mengadakan eksploitasi/penimbaan pengetahuan sebagaimana pada butir di atas;

· koleksi perpustakaan yang beraneka ragam dapat melatih daya kritis siswa, apalagi kalau dia menemukan informasi yang bertentangan mengenai masalah yang sama dalam buku-buku yang berbeda judul dan pengarangnya;

· membantu siswa mengembangkan kegemarannya, seperti tersedianya buku-buku tentang berbagai jenis keterampilan, bercocok tanam, bunga-bunga, hewan, dan astronomi;

· membantu siswa mengembangkan keterampilan menemukan, menyaring, dan menilai informasi, serta kemampuan menarik kesimpulan;

· sebagai “guru”, sebagai pusat dan sumber belajar.


Minat Baca

Dari waktu ke waktu keluhan tentang minat baca masyarakat kita masih sama, yaitu masih sangat mengecewakan dan sangat rendah. Kegiatan membaca sebenarnya merupakan kegiatan belajar dan bagian integral dari dunia pendidikan. Oleh sebab itu, kegiatan membaca merupakan tanggung jawab keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Dalam situasi sekarang saat kemauan dan kemampuan beli masyarakat sangat rendah, sudah wajar pula bahwa peranan pemerintah akan sangat menentukan berhasil tidaknya pengembangan kegiatan dan minat baca ini (Kartosedono, 1978: 14).

Menurut Kartosedono kita tidak mengharapkan bahwa setiap individu di dalam masyarakat harus memiliki dan membeli setiap buku yang diterbitkan. Yang kita harapkan adalah tumbuhnya minat baca dan adanya kesempatan bagi setiap individu dalam masyarakat untuk dapat membaca dan mengembangkan kegiatan membaca. Kesempatan ini dapat diusahakan oleh pemerintah dengan penyelenggaraan perpustakaan yang cukup memadai sehingga dapat dijangkau oleh setiap individu dalam masyarakat.

Di sekolah-sekolah/perguruan tinggi mutlak perlu adanya layanan perpustakaan sekolah. Demikian pun di desa-desa perlu adanya perpustakaan-perpustakaan umum tingkat desa. Meningkatkan kegiatan membaca untuk membina kebiasaan membaca bagi masyarakat melalui penyelenggaraan perpustakaan yang mencukupi ini kiranya merupakan cara yang paling efisien bagi pemerintah (Kartosedono, 1978:14-15).

Wahadaniah (1997:16) menjelaskan bahwa minat baca adalah keinginan yang kuat disertai usaha-usaha seseorang untuk membaca. Sementara Tampubolon (1993:41) menjelaskan bahwa minat adalah perpaduan antara keinginan dan kemauan yang dapat berkembang jika ada motivasi. Seseorang mungkin mempunyai minat (keinginan + kemauan) beternak misalnya. Akan tetapi, karena harga ayam dan telur sangat rendah, maka ia tidak melaksanakannya. Harga yang sangat rendah itu tidak menjadi motivasi. Andaikan harga tinggi, dia akan melaksanakannya. Harga tinggi merupakan motivasi. Membaca adalah kegiatan fisik dan mental. Melalui membaca informasi dan pengetahuan yang berguna bagi kehidupan dapat diperoleh. Inilah motivasi pokok yang dapat mendorong tumbuhnya dan berkembangnya minat membaca. Apabila minat ini sudah tumbuh dan berkembang, dalam arti bahwa orang bersangkutan sudah mulai suka membaca, maka kebiasaan membaca pun akan berkembang. Tempat yang terbaik untuk menumbuhkan minat dan mengembangkan kebiasaan membaca adalah di rumah, terutama karena suasana kekeluargaan itu. Waktunya sebaiknya sedini mungkin semasa kanak-kanak.

Menurut Bond (Alwi, 1995:34) minat baca digambarkan sebagai penentuan cakupan dan isi di mana seseorang melakukan aktivitas baca paling sering atau seberapa banyak kegiatan membaca dilakukan terhadap bacaan yang telah dipilih, juga intensitas seseorang dalam melakukan kegiatan membaca. Sementara Tinker (Alwi, 1995:34) mengatakan bahwa minat baca adalah kecenderungan yang diperoleh secara bertahap untuk merespon secara selektif, positif, disertai rasa puas terhadap hal-hal khusus yang dibaca. Minat cenderung memberikan antisipasi yang menyenangkan yang diikuti oleh tindakan, yang selanjutnya memberikan rasa senang yang lebih besar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar